Uncategorized

Review Novel Genre Spritual: Al-Mahabbah

Assalamualaikum~

Welcome Back everyone, kali ini saya bakal sharing ke kalian hasil review mengenai salah satu novel dengan judul “AL- MAHABBAH” karya Mbak Elisa Fitria yang seriously demi apa berhasil buat speechless plus kesel di saat yang bersamaan*imnotlebayforsure*. Lemme share  to you how I review this novel.

ONDA2049
Ini Cover depannya guys, sederhana ya, namun syarat akan makna kan?

Oke langsung aja yuk simak reviewnya~~

Dari covernnya kalian mungkin udah punya gambaran novel ini berceritatentang apa, disana ditunjukkan genggaman dua tangan dengan simbol ibadah yang berbeda, yap satu tangan memegang Tasbih dan satu lagi memegang Rosario (berbentuk salib). Eitss jangan langsung narik kesimpulan kalau cerita dengan tema beda agama ini, udah terlalu mainstream. Its different believe me!

Awal membaca dipart 1-3 saya sempet merasa duh berat banget yah, tapi lama kelamaan tuh semakin tertarik kedalam cerita ini, ternyata gak seberat yang dikira kok bahasanya, lama kelamaan gaya bahasa yang diusung penulis sebenarnya cukup ringan, semakin luwes dan tetap berhasil meng-enyuhkan hati pembaca.

Al-Mahabbah~

MQZJ9862
Tampak samping Novel

Arti kata Mahabbah berasal dari kata ahabba, yuhibbu, mahabbatan, yang secara harfiah berarti mencintai secara mendalam. Mahabbah pada tingkat selanjutnya dapat pula berarti suatu usaha sungguh-sungguh dari seseorang untuk mencapai tingkat ruhaniah tertinggi dengan tercapainya gambaran yang Mutlak, yaitu cinta kepada Allah SWT.

Novel ini menceritakan Imam Abdul Hamid, seorang lelaki yang lahir ditengah keluarga yang religius bahkan sangat mengerti akan akidah agama Islam. Dia melanjutkan pendidikan S2 nya di negeri orang (Jerman),  membuat seorang Imam jatuh hati dengan seorang gadis keturunan Jerman bernama Sellma Gravel (Ell) yang berbeda keyakinan dengannya yap, Ell beragama nasrani dan Imam sudah bertekad akan mempersunting Ell. Tidak perduli dengan tembok perbedaan yang berada di depan mereka. Imam yang notabene berasal dari keluarga yang patuh dan bahkan ketat sekali mengatur anaknya dalam urusan agama, tentulah keinginan Imam ditolak mentah-mentah oleh orang tuanya.

Tapi apa yang dilontarkan Imam kepada orang tuanya : “Mengapa perbedaan selalu jadi penghalang? Apa yang salah dengan perbedaan? Bukankah dengan perbedaan itu kita bisa saling melengkapi?”

-Imam-

Imam berpegang teguh pada hadist yang dipercayainya, yang mana diperbolehkannya lelaki muslim menikahi seorang ahli kitab. (Jangan tanya saya perihal ini yah, karna ini berat :”)

Imam mengatakan orang tuanya terlalu kolot. Keras kepalanya Imam ini kelewatan banget, ayahnya nasehatin dia pakai Surat dalam Al-Quran serta Hadist, eh dianya juga melawan dengan bawa Al-Quran dan Hadist pula. Cinta kepada manusia udah membutakan Imam akan cintanya dengan Allah Swt.

Pada saat yang sama di Indonesia, ada Shandy Naima Harun seorang gadis yang hatinya telah Imam persunting sejak lima tahun Imam  meninggalkannya “tanpa ikatan pacaran pastinya”.  Shandy disini bener-bener sosok perempuan yang dirindukan surga, aku belajar banyak banget pelajaran dari sosok dia ini, shalihah, syar’i, baik, cantik, penyabar, Ya Allah paket komplit lah pokoknya. Gambaran sosok Shandy ini bisa teman-teman jadikan pelajaran sekaligus tambahan inspirasi loh, dari Shandy disini banyak mengajarkan hikmah perihal  keikhlasan, kesabaran dan juga perjuangan.

Kenapa aku bilang gitu, coba bayangin nih ya gaes, kalian udah mencintai seseorang dalam do’a yang mana kalian tuh udah anggap ‘nah dia nih sosok Imam yang gw idam-idamkan, Ya Allah jagain hatinya yah’, udah nunggu ±5 tahun lamanya untuk di khitbah, eh tiba-tiba dapet kabar kalau orang yang selalu kalian lantunkan namanya dalam do’a itu, akan menikah dengan perempuan lain dan beda agama pula. Aku tebak kalian bakalan ngabisin tisu Paseo itu dua pack atau lebih, karna begitu banyaknya air mata yang keluar. HAHA!

Tapi apa yang dilakukan Shandy ketika hal itu datang ke dia : “Semoga Allah memberkahimu dan memberkahi atasmu serta mengumpulkan kamu berdua dalam lingkar kebaikan,” ucap Shandy tulus dengan senyuman. Lah kita, masalah kecil udah galau duluan, Ya Allah, malu ama kerudung :”(

Setelah Imam dan Ell bersatu dalam ikatan sakral yaitu pernikahan, mereka mengabaikan prinsip, pandangan serta keyakinan tentang Sang Maha Kuasa demi satu kata yaitu cinta. Sampai saat dimana seorang Imam mulai ragu dengan kemantapan pilihannya saat berdebat dengan orang tuanya, dia sampai pada titik dimana Ia sadar itu kesalahan tapi tak tau cara menghentikan.

Duh udahlah ya intinya novel ini bermanfaat sekali, kita bisa belajar banyak hal dari sini, salah satunya ialah “orang tua memang tidak selalu benar, tapi pilihan, keputusan mereka jarang sekali salah”. Yuk muhasabah diri kita lagi, mungkin pernah membangkang pilihan orang tua kita, bersegeralah minta maaf, takutnya sekalipun kita sukses dengan pilihan kita, tapi tak ada restu dari kedua orang tua, akan hampa sekali rasanya yang kita capai itu. Dari sini kita bisa tahu, kalau keputusan yang diambil dengan keadaan emosi dan egoisme yang sedang tinggi-tingginya akan berujung penyesalan, seperti kata Mas Imam nih.

Tak ada yang salah dengan cinta, hanya hatiku yang terlalu cepat menyimpulkan. Tak ada yang salah dengan dia, yang terlahir dengan salib dilehernya. –Imam-

Dan juga di novel ini rekan-rekan muslimah bisa ambil banyak sekali pelajaran.

Jika cinta ditolak, maka do’alah yang bertindak. –Bab 5- (Shandy)

(jadi bukan dukun yah gaes)

Ada satu do’a yang dilantunkan oleh Shandy dan itu bener-bener kedengeran tulus dan adem banget dibaca, boleh dicoba nih yang lagi gundah daripada ber-sarcasm ria di sosial media.

“Ya Allah … Ya Rabb jika aku bukan tulang rusuknya, jangan biarkan aku merindukan kehadirannya. Jangan biarkan aku melabuhkan hati kepadanya. Kikis semua pesonanya dari pelupuk mataku. Jauhkan dia dari relung hatiku”.

Konklusinya adalah, novel ini sangat worth it masuk ke dalam list novel yang memiliki banyak kebermanfaatan positif didalamnya, and FYI guys, novel ini merupakan diangkat real story loh. Jadi memang diangkat dari realita, tapi mungkin memang dibahasakan sedemikian rupa agar lebih luwes kita membacanya. Terima kasih loh mbak Elisa Fitria sudah membuat karya seperti ini, memberikan pelajaran yang berharga banget untuk pembaca semua termasuk saya pastinya:).

Udah segitu aja review yang masih dalam proses belajar yang sangat mendasar, masih awam. Semoga postingan ini bermanfaat Aamiin. Dan satu lagi, bagi teman-teman area Pekanbaru yang tertarik untuk baca novel ini boleh pinjam ke aku Insha Allah kalau tidak sedang dipinjam aku bisa pinjamkan, dengan syarat “pegang teguh, mesti di jaga!”

BLOG 2
Bonus nih guys, sinopsis bagian belakang covernya.

Wallahu A’lam Bishawab

Review dari Seorang Fakir Ilmu

Fitri Han

Iklan